LG Kembangkan Teknologi Inverter pada Pendingin Ruangan

  • Diperbaharui
  • 28/04/2010

LEBIH HEMAT LISTRIK DAN RAMAH LINGKUNGAN

Jakarta (28/4) - PT. LG Electronics Indonesia kian mengukuhkan posisinya sebagai yang terdepan dalam pengembangan teknologi pada industri elektronik rumah tangga. Hal ini ditunjukkan dengan dirilisnya hasil pengembangan lebih lanjut teknologi INVERTER yang selama ini telah dipercaya dapat mengurangi pemakaian daya listrik khususnya pada pendingin ruangan.

Tak tanggung-tanggung, LG Electronics mengklaim pengembangan teknologi Inverter-nya ini mampu menghasilkan penghematan daya listrik hingga 60% berbanding dengan perangkat pendingin udara konvensional. “Melalui hasil pengembangan ini kami ingin menunjukkan komitmen LG untuk tidak terpaku pada teknologi yang ada dan terus mengupayakan pada inovasi yang semakin hemat listrik tanpa mengurangi kenyamanan pada penggunanya,” ujar Albert Fleming - Head of Residential Air Conditioner PT. LG Electronics Indonesia.

Pengembangan teknologi Inverter dari yang sebelumnya telah cukup dikenal di pasaran ini bukannya tanpa alasan. Dibandingkan dengan perangkat elektronik rumah tangga lainnya, pendingin ruangan (air conditioner) memiliki konsumsi daya listrik besar dalam penggunaannya. Belum lagi bila merujuk pada durasi pengoperasian yang umumnya lama, menciptakan beban biaya bagi konsumen untuk konsumsi listrik rumah tangga.

Kunci pengembangan terbaru dari teknologi Inverter besutan LG ini merupakan hasil dari kehandalan sirkuit micro processor yang terletak tepat pada kompresornya. Pemanfaatan sirkuit ini memungkinkan mesin pendingin ruangan berteknologi Inverter untuk mengubah jenis arus listrik yang masuk dari arus bolak-balik (Alternation Current) menjadi arus listrik searah (Direct Current) sebagai keluarannya. Ini berbeda dengan skema kerja pada perangkat pendingin ruangan konvensional yang hanya memanfaatkan arus listrik bolak-balik untuk mendinginkan suatu ruangan.

Adanya perubahan jenis arus listrik dari AC menjadi DC inilah yang kemudian menghasilkan kinerja kompresor yang lebih stabil pada tingkat suhu yang diinginkan. Pasalnya, proses pengubahan jenis arus listrik yang terjadi pada kompresor yang berlangsung terus menerus membuat kompresor terus bekerja secara berkelanjutan sepanjang pengoperasian perangkat pendingin ruangan ini.

Cara kerja kompresor ini, ketika suhu ruangan telah mencapai derajat yang sesuai keinginan pengguna, kompresor pada Inverter pengembangan terbaru ini masih akan tetap bekerja namun dengan laju putaran yang menyesuaikan dengan naik-turunnya suhu ruangan. Artinya, cepat-lambatnya kompresor bekerja akan sesuai dengan informasi yang diterima sensor untuk memantau bilamana terjadi perubahan suhu dalam ruangan.

Hal ini berbeda dengan hukum kerja kompresor pada perangkat pendingin ruangan konvensional. Pada perangkat ini, kompresor akan berhenti bekerja begitu suhu ruangan yang diinginkan telah terpenuhi. Namun demikian, kompresor baru akan mulai kembali aktif bekerja bila terjadi perubahan temperatur sebagai akibat kenaikan suhu dalam ruangan.

Daya listrik yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali kerja kompresor ini secara berkala sepanjang pemakaian perangkat pendingin ruangan inilah yang kemudian memiliki konsekuensi pada tingginya asupan daya listrik yang diperlukan. “Pada gilirannya, hal ini memberi beban tinggi pada besaran biaya listrik rumah tangga,” ujar Sigit Herry Supriyatna – Project Group Head Commercial Air Conditioner PT. LG Electronics Indonesia.

Menguji hasil pengembangan teknologi Inverter kreasinya ini, LG bahkan melakukan sebuah pengujian independen yang dipercayakan pada tim peneliti dari Universitas Indonesia Fakultas Tehnik Elektro. Melalui serangkaian pengujian tersebut, didapati hasil jika perangkat pendingin ruangan dengan kelengkapan Inverter besutan LG ini memiliki konsumsi daya listrik sebesar 1,46271 kWH pada pengujian dalam ruangan dengan suhu yang diatur 24° Celcius selama kurun waktu 8 jam. Sedangkan, tingkatan suhu 24° Celcius ini sendiri dapat dengan cepat dicapai teknologi LG Inverter hanya dalam hitungan waktu 7 menit. ”Pengujian ini dilakukan untuk menguatkan hasil inovasi teknologi yang LG lakukan. Tak sekedar mengembangkan suatu teknologi, namun pula LG berusaha untuk memberikan kepastian pada konsumen terkait hasil nyata bagaimana produk tersebut nantinya memberikan nilai guna sesuai yang kami janjikan kepada konsumen kami,” ujar Albert Fleming.

Lebih lanjut Albert Fleming juga menjelaskan jika dari hasil uji tersebut, konsumen sekaligus dapat memperkirakan jumlah biaya listrik yang harus ditanggung dengan penggunaan pendingin udara berteknologi Inverter dari LG ini. Di mana, untuk rumah berkapasitas 2200 watt, konsumen cukup membayar kurang lebih Rp. 1,000,- / harinya. Jumlah ini diperoleh dengan melakukan penghitungan sesuai dengan rumusan sederhana hasil pengalian daya listrik dengan biaya listrik/kWh (R-1).

Lebih Cepat Dingin, Lebih Nyaman
Penggunaan teknologi LG Inverter pada produk pendingin ruangan memang sudah terbukti mampu menekan biaya listrik rumah tangga. Meski begitu konsumen tak hanya diuntungkan sampai disitu saja oleh pengaplikasian teknologi LG Inverter. Para penggunanya juga dapat merasakan kenyamanan yang lebih, salah satunya yaitu dengan proses pendinginan yang menjadi lebih cepat.

Ketika mesin dinyalakan untuk pertama kalinya, teknologi LG Inverter ini akan memacu kerja mesin secara lebih optimal, sehingga dapat mencapai tingkat suhu yang diinginkan penggunanya 15% lebih cepat bila dibandingkan dengan pendingin udara konvensional.

Tak sekedar mempercepat proses pendinginan di awal, teknologi LG Inverter ini juga menjaga agar suhu di dalam ruangan tetap stabil, sesuai dengan yang diinginkan selama pendingin ruangan tersebut bekerja. Hal ini dilakukan melalui sensor deteksi yang secara cermat mengawasi naik dan turunnya tingkat kedinginan di dalam ruangan. Sensor tersebut akan secara cermat memonitor selisih suhu antara suhu di dalam rungan dengan suhu yang ditentukan supaya perbedaannya tidak lebih dari 0.5° Celcius. Di mana, pendingin ruangan konvensional hanya dapat mendeteksi, bila selisih suhu sudah mencapai rentang 1° Celcius. ”Dengan perbedaan suhu yang seminim mungkin, fluktuasi suhu dalam rungan pun dapat diminimalisir. Pada akhirnya, konsumen akan merasa kian nyaman untuk beraktifitas di dalam ruangan bersuhu cenderung stabil,” kata Sigit Herry Supriyatna.

Penjagaan optimal terhadap tingkat suhu udara di dalam ruangan, lantas dikombinasikan dengan kenyamanan lainnya yang ditawarkan oleh teknologi LG Inverter melalui jaminan suara mesin kompresor yang anti berisik. Perubahan arus listrik bolak – balik menjadi arus listrik searah, secara nyata mampu mereduksi hasilan suara mesin kompresor hingga tingkat suara 19 dB. ”Inilah solusi yang LG berikan atas keluhan konsumen mengenai kegaduhan pada mesin kompresor pendingin udara,” ucap Albert Fleming.

Perhatian LG terhadap kenyamanan penggunanya, tak membuatnya lantas mengesampingkan nilai-nilai pelestarian lingkungan. Ini dibuktikannya dengan pengaplikasian zat pendingin terbaru yang aman bagi lingkungan. Zat pendingin (refrigerant) jenis R410A ini dipilih karena gas jenis ini terbukti tidak mengandung CFC (Cloro Fluoro Carbon) yang menjadi pemicu utama penyebab kebocoran pada lapisan ozon. ”Selain menelurkan inovasi handal yang menguntungkan konsumennya, LG juga memastikan jika teknologi ini aman bagi lingkungan,” ujar Albert Fleming lagi

Berbagai keunggulan yang ditawarkan LG melalui pengembangan teknologi Inverter ini, tak dipungkiri menjadi bagian dari upaya berkelanjutan vendor asal Korea Selatan ini untuk selalu memuaskan para konsumen setianya dalam menggunakan produk pendingin udara keluaran LG. ”Dengan hasil pengembangan ini kami ingin sekaligus memberikan pesan bila teknologi Inverter yang ada saat ini bukanlah menjadi titik akhir dari upaya LG untuk terus menghasilkan perangkat pendingin ruangan yang lebih hemat listrik dan sekaligus nyaman bagi penggunanya. Bahkan kedepannya, kami akan persiapkan terus inovasi terbaru yang selalu memenuhi kebutuhan konsumen kami akan pendingin udara yang modern,” tutup Albert Fleming. (DHITA AYUNINGTYAS)